Senin, 27 Juni 2016

essai


Tugas Essai
Seorang mahasiswa lulusan sarjana jurusan akuntansi memiliki banyak peluang perkerjaan dibidangnya seperti menjadi seorang akuntan dan auditor. Namun dengan banyaknya lulusan-lulusan disetiap tahunnya dengan jurusan yang sama maka akan memperkecil seseorang untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusan dan dibidang yang mereka bisa sesuai dengan apa yang sudah didapat ketika kuliah. Dengan begitu seorang lulusan sarjana dituntut untuk memiliki skill dalam hal apapun itu , karena di zaman sekarang seperti ini pengalaman dan kemampuan yang lebih diutamakan . Bukan hanya itu saja sikap disiplin , rajin, tekun dan mandiri bisa dijadikan modal untuk memcari perkerjaan. Kita pun bisa menjadi seorang pengusaha untuk menciptakan pekerjaan sehingga kita juga bisa memberikan pekerjaan untuk orang yang membutuhkan. Jadi menjadi seorang sarjana akuntansi tidak boleh membuat kita berdiam diri atau hanya mencari perkerjaan sesuai dengan apa jurusan kita ketika kuliah . kita bisa mencoba pekerjaan-pekerjaan lainnya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan kita bisa terus belajar untuk mengembangankan apa yang kita miliki.


Tulisan ini untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah Akuntansi Internasional
Ditulis Oleh     : N. Setyorini
Dosen              : Jessica Barus
Universitas Gunadarma

jurnal 3


Topik / Tema   : Translasi Mata Uang Asing
Judul               : Exposure Translasi Akuntansi Perkembangan dan Dampak bagi Negara- Negara Asia
Nama Penulis  : Fitri Ella Fauziah dan Murharsito

Sejak 1950 lingkungan global dimana multinational corporation (MNCs) melakukan aktivitas bisnisnya telah tumbuh dengan sangat cepat. Perbandingan antara nilai ekspor dunia terhadap produk domestik dunia pada awal 1970 dan akhir 1990 telah meningkat dari angka satu berbanding delapan menjadi satu banding lima. Jumlah investasi asing langsung dalam perbandingannya dengan output dunia telah meningkat dari angka 5 persen menjadi 10 persen selama periode 1980-1996. Volume perdagangan untuk mata uang asing berkisar pada angka 1.500 milyar dollar per hari pada tahun1997.
Exposure translasi juga dikenal dengan exposure akuntansi, timbul karena laporan keuangan dari afiliasi di negara lain, biasanya berupa anak perusahaan atau cabang diluar negri harus diubah dalam mata uang negara asal MNCs untuk mempersiapkan laporan keuangan konsolidasi. Jika terjadi perubahan nilai tukar sejak sebelum periode pelaporan maka dalam pelaporan ulang dari aktiva, hutang , pendapatan dan biaya, keuntungan dan kerugian dalam mata uang asing. Tingkat keuntungan atau kerugian yang mungin inilah yang dapat diukur dalam exposure translasi.
Translasi laporan keuangan untuk tujuan konsolisasi tidak mempengaruhi arus kas perusahaan multinasional, karena hal inilah sejumlah analis menyatakan bahwa exposure translasi tidak relevan. Sedangkan analis-analis yang lain berpendapat bahwa laporan keuangan konsolidsi mencerminkan kinerja sebuah perusahaan multinasional, maka exposure translasi menjadi relevan .
Metode yang digunakan untuk mengukur Exposure Translasi :
1.      Metode current / non-current
2.      Metode monetary / non-monetary
3.      Metode temporal
4.      Metode current rate
Kesimpulan :
Perkembangan perekonomian yang begitu pesat ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional corporation (MNCs) baik dinegara eropa maupun di asia yang membutuhkan translasi akuntansi untuk menyamakan laporan konsolidasu anatara anak perusahaan dengan induk perusahaan . exposure tranlasi mencerminkan exposure laporan keungan konsolidasi sebuah MNC terhadap pergerakan nilai tukar. Untuk mengukur exposure translasi, perusahaan-perusahaan multinasional dapat memprediksi laba dalam masing-masing valuta asing dan kemudian menentukan dampak potensial dari pergerakan nilai tiap valuta asinf terhadap valuta negara asal mereka.

Sumber :
Jurnal Dinamika Ekonomi & Bisnis Vol.2 No.1 Maret 2005

Tulisan ini untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah Akuntansi Internasional
Ditulis Oleh     : N. Setyorini
Dosen              : Jessica Barus
Universitas Gunadarma

jurnal 2


Topik / Tema   : Pelaporan Keuangan
Judul               : Kualitas Pelaporan Keuangan Berbagai Faktor Penentu dan Konsekuensi Ekonomis.
Nama   Penulis : Zaenal Fanani

Pengertian  kualitas  pelaporan  keuangan  hingga  saat  ini  masih  beragam, namun  pada prinsipnya pengertian  kualitas  pelaporan  keuangan  dapat  dipandangdalam dua sudut pandang. Pandangan pertama menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan  berhubungan  dengan  kinerja  keseluruhan  perusahaan  yang  tercermin dalam  laba  perusahaan.  Pandangan  ini  menyatakan  bahwa  laba  yang  berkualitas tinggi  terefleksikan  pada  laba  yang  dapat  berkesinambungan  {sustainable) untuk suatu periode yang lama.  Pandangan kedua menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan  berkaitan  dengan  kinerja pasar  modal  yang  diwujudkan  dalam  bentuk imbalan,  sehingga  hubungan  yang  semakin  kuat  antara  laba  perusahaan  dengan imbalan  menunjukkan  informasi  pelaporan  keuangan  yang  tinggi  (Ayres  1994). Pandangan  yang  sama  dilakukan  oleh  Schipper  (2004)  dengan  menyebutnya sebagai  atribut-atribut  berbasis  akuntansi  untuk  pandangan  pertama,  dan  atribut- atribut berbasis pasar untuk pandangan kedua.
Implikasi dari pandangan tersebut menunjukkan bahwa fokus pengukuran kualitas pelaporan keuangan perusahaan tersebut berkaitan dengan sifat- sifat pelaporan keuangan. Hubungan yang  semakin  kuat  antara  laba  dengan  imbalan  pasar  menunjukkan  informasi pelaporan keuangan tersebut  semakin tinggi. Dengan demikian kualitas pelaporan keuangan merupakan konstruk yang dapat  dianalisis  dalam  dua  pandangan,  yaitu  kualitas  pelaporan  keuangan  yang berkaitan dengan kas  dan laba itu  sendiri,  atau kualitas pelaporan keuangan yang berkaitan  dengan  imbalan  saham.
Pengukuran  proksi  kualitas  pelaporan  keuangan  yang  digunakan  daiam penelitian ini terdiri dari relevansi nilai, ketepatwaktuan, konservatisme, dan atribut kualitas pelaporan keuangan baru yang merupakan hasil analisis atribut sebelumnya (kualitas pelaporan keuangan faktorial).
Metode Penelitian :
X1       = Siklus Operasi Perusahaan
X2       = Volatilitas Penjualan
X3       = Ukuran perusahaan
X4       = Umur Perusahaan
X5       = Kinerja Perusahaan
X6       = Likuiditas
X7       = leverage
X8       = klasifikasi Industri
X9`      = Beta
Y11     = Relevansi Nilai
Y12     = Keteparwaktuan
Y13     = Konservatisme
Y1       = Kualitas Pelaporan Keuangan Faktorial
Y2       = Informasi Asimetri

Hipotesis :
H1        : Terdapat perbedaan diantara atribut-atribut kualitas pelaporan keuangan perusahaan.
H2        : Semakin panjang siklus operasi perusahaan, maka akan semakin rendah kualitas  pelaporan keuangan.
H3        :Semakin tinggi volatilitas  penjualan  perusahaan, maka akan semakinrendah kualitas pelaporan keuangannya.
H4        : Semakin besar ukuran  perusahaan, maka akan semakin tinggi kualitas informasi pelaporan keuangan.
H5        :Semakin  lama  umur  perusahaan, maka akan semakin  tinggi  kualitas pelaporan keuangan.
H6        :  Semakin  baik  kineija  perusahaan,  maka  akan  semakin  tinggi  kualitas pelaporan keuangan
H7        :  Semakin  tinggi  likuiditas  suatu  perusahaan, maka akan  semakin tinggikualitas pelaporan keuangan.
H8        :  Semakin  tinggi  leverage  suatu  perusahaan, maka akan semakin tinggi kualitas pelaporan keuangan.
H9        :  Semakin tinggi risiko lingkungan perusahaan, maka akan semakin tinggi kualitas pelaporan keuangan.

Berdasarkan hasil penelitian yang didasarkan pada tujuan penelitian di atas dan hasil pengujian hipotesis-hipotesis pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan:
a.       Hasil  pengujian  regresi  auxiliary R2  antar  ketiga  atribut  kualitas  pelaporan keuangan—yakni  relevansi  nilai,  ketepat  waktuan,  dan  konservatisme— menunjukkan  terdapat  perbedaan  diantara  atribut-atribut  kualitas  pelaporan keuangan dan tidak teijadi tumpang tindih (overlap)antar ketiga atribut kualitas pelaporan keuangan. Hal ini teijadi karena besaran tumpang tindihnya  (the degree of overlap)memiliki nilai yang tidak melebih 0,5. Hasil pengujian analisis faktor ketiga atribut di atas menghasilkan satu atribut kualitas pelaporan keuangan yang baru,  yang  disebut  kualitas  pelaporan  keuangan  faktorial.  Kualitas  pelaporan keuangan faktorial tersebut pembentukannya berasal dari dua komponen atribut, yaitu relevansi nilai dan konservatisme.
b.      Hasil  pengujian  faktor-faktor  penentu  kualitas  laba  menunjukkan  bahwa faktor-faktor  volatilitas  penjualan,  kinerja  perusahaan,  dan  klasifikasi  industri berhubungan positif terhadap kualitas pelaporan keuangan factorial. Sebaliknya, siklus  operasi,  ukuran  perusahaan,  umur  perusahaan,  likuiditas  dan  leverage tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.
c.       Hasil pengujian konsekuensi ekonomis kualitas pelaporan keuangan,menunjukkan bahwa  kualitas  pelaporan  keuangan  faktorial  berpengaruh  signifikan  terhadap informasi asimetri.

Sumber :
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia Volume 6 - Nomor 1, Juni 2009

Tulisan ini untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah Akuntansi Internasional
Ditulis Oleh     : N. Setyorini
Dosen              : Jessica Barus
Universitas Gunadarma

jurnal 1


Topik / tema    : PSAK
Judul               : Evaluasi Konseptual Atas PSAK No.26 serta Dampaknya Terhadap Sektor Properti
Nama Penulis : Aruna Wirjolukito

Dalam perkembangannya, isi dan dasar pemikiran PSAK no. 26 masih mengadopsi  konsep dari SFAS  no.  34 dan IAS  no.  23,  terbatas pada topik kegiatan konstruksi berkaitan dengan qualifying assets. PSAK no. 26 (1994) sendiri tidak bisa dikatakan merupakan produk baru, karena IAI sudah menerbitkannya dalam Pernyataan PAI  15 Februari  1988, yang dimasukkan sebagai bagian dari PAI  1984 yang mengacu pada FASB no. 34 dan IAS no. 23; dimana pada standar aslinya IASC mengatakan bahwa perusahaan diberi keleluasaan untuk memilih metode kapitalisasi ataupun expense, dan menerapkannya secara konsisten.
Dalam penyusunan standar, memang sejauh ini IAS menjadi acuan yang cukup penting. Tentu  saja  ada  banyak  pertimbangan  yang  mendasari  pemilihan  tersebut,  seperti pertimbangan efisiensi dan acuan pada era globalisasi. PSAK no. 26 (1994) mensyaratkan tiga alternatif untuk menampung balas jasa berupa bunga pinjaman selama periode konstruksi, sedangkan dalam revisinya tahun (1997) biaya pinjaman terdiri dari empat unsur, yaitu :
1.      bunga pinjaman jangka panjang dan pendek,
2.      amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman,
3.      amortisasi biaya yang terkait dengan pinjaman; seperti biaya konsultan, ahli hukum, commitment fee,dan
4.      selisih kurs atas pinjaman dalam valas atau premi kontrak valuta beijangka dalam rangka hedging dana yang dipinjam dalam valas.
Keempat hal tersebut harus diperlakukan sebagai beban saat terjadi, kecuali bila dapat langsung distribusikan dengan perolehan, konstruksi, atau produksi dari suatu qualifying asset.

PENDEKATAN KONSEPTUAL
Investasi dalam Aset Modal
Untuk mengevaluasi proyek mana yang akan dipilih dalam investasi dana perusahaan, menurut Van Home dan Wachowicz (1998) dikenal empat alternatif metode yang dapat digunakan; yaitu : payback period, internal rate o f return, net present value, dan profitability index

Kualitas Karakteristik Informasi Akuntansi
Menurut  pervasive constrainthirarki kualitas informasi akuntansi manfaat yang dihasilkan jumlahnya harus lebih besar daripada biaya yang dikorbankan. Sedangkan kualitas khusus pengguna laporan keuangan adalah laporan keuangan tersebut harus dapat dipahami dan berguna untuk pengambilan keputusan.
Variabilitas  Penghasilan
Perusahaan yang mengkapitalisasi dan mendepresiasikan biaya (secara sistematis mengalokasikannya pada penghasilan) dari periode ke periode, akan menunjukkan pola pelaporan penghasilan yang lebih smooth.Perusahaan yang menerapkan expenseatas biaya saat teijadinya, akan memiliki fluktuasi varian yang lebih besar dalam pelaporan penghasilan. Varian tersebut akan menurun seiring dengan makin berkembangnya perusahaan atau perbesaran skala perusahaan.
Profitabilitas
Pada periode awal, melakukan pembebanan akan menurunkan profitabilitas, baik secara nilai absolut maupun relatif terhadap aset, penjualan, dan lainnya. Pada periode berikut, saat perusahaan yang menerapkan perlakuan  expensemulai mencapai kematangan, return on salesakan tetap rendah. Walau demikian, karena perusahaan melaporkan aset dan modal yang lebih rendah, maka hasil pengukuran ROA/ROE akan lebih tinggi dibanding perusahaan yang menerapkan kapitalisasi.

Kesimpulan :
Dalam hal implementasi konsep kapitalisasi, ada beberapa konsekuensi ekonomis terkait dengan penyajian dan kualitas pelaporan keuangan perusahaan. Perbedaan pendapat yang tajam antar anggota dewan dimana Kirk, Block, dan Morgan’  mempertimbangkan bunga sebagai suatu biaya yang memiliki aturan yang berbeda dengan biaya bahan, biaya upah, dan servis-servis lain, yaitu bahwa :
1.      kas, sumber daya yang diperoleh melalui pembayaran bunga hutang, memiliki keunikan dalam hal karakteristik.
2.      biaya bunga adalah suatu returnpada pemberi pinjaman, atas modal yang mereka sediakan bagi perusahaan untuk suatu periode tertentu. Biaya bunga, seperti deviden, lebih terkait langsung dengan periode selama modal memberikan kenaikan manfaat.
Dalam PSAK no. 26 (1994), jelas disebutkan alasan pendukung mengapa alternatif dipakai. Sebagaimana dicantumkan terdapat tiga hal yang mendasari pemilihan ata s alternatif kapitalisasi biaya bunga. Pertama pertimbangan luas cakupan definisi biaya perolehan aset, yang mengikutsertakan seluruh biaya untuk menempatkan pada kondisi dan  lokasi  sesuai  maksud  tujuan.  Sebenarnya  pandangan  ini  tidaklah  tepat  secara keseluruhan,  karena pencatatan  suatu  aset  (terutama  aset  bukan  kas),  seperti  yang argumentasi tiga anggota dewan, diukur sebesar kas yang dikeluarkan. Atau dengan kata lain, pencatatan sebesar  costva/we-nya. kedua adalah dalam harga perolehan aset yang dibeli, bukan dikonstruksi atau diproduksi sendiri, telah mengikutsertakan biaya bunga yang terjadi selama periode konstruksi/produksi aset tersebut. Ketiga karena bunga ikut memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang, maka harus dikapitalisasi sebagai bagian dari harga perolehan aset.

Sumber :
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. 1, No.2 , Desember 2004
Tulisan ini untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah Akuntansi Internasional
Ditulis Oleh     : N. Setyorini
Dosen              : Jessica Barus
Universitas Gunadarma

Kamis, 05 Mei 2016

STANDAR AUDIT DAN AKUNTANSI GLOBAL






·         Manfaat Konvergensi Internasional
Pendukung konvergensi internasional menyatakan bahwa banyak manfaat yang telah dirasakan dengan adanya konvergensi. Terakhir, surata kabar terkini mengusulkan adanya “global GAAP (prinsip akuntansi berlaku umum)”, yang keuntungannya antara lain :
1.      Standar laporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten diseluruh dunia dapat meningkatkan efisiensi dalam alokasi modal. Biaya modal akan dikurangi.
2.      Para investor dapat mengambil keputusan yang lebih baik dalam berinvestasi. Portofolio lebih bermacam-macam dan risiko keuangan dapat dikurangi. Transparansi dan persaingan di pasar global akan lebih terjaga.
3.      Perusahaan-perusahaan dapat meningkatkan strategi dalam mengambil keputusan mengenai merger dan akuisisi area usaha.
4.      Pengetahuan dan keahlian akuntansi dapat ditansfer tanpa batasan ke seluruh dunia.
5.      Ide-ide terbaik yang muncul dari aktivitas berstandar nasional dapat ditonjolkan dalam mengembangkan standar global dengan kualitas terbaik.
Sebagian argumen mengenai konvergensi akuntansi memiliki tujuan untukmeningkatkan efisiensi dalam operasional dan alokasi di pasar modal.
·         Harmonisasi Internasional
Harmonisasi merupakan proses untuk menigkatkan kompatibilitas (kesesuaian) praktik akuntansi dengan menentukan batasan-batasan seberapa besar praktik-prkatik tersebut dapat beragam. Standar harmonisasi ini bebas dari konflik logika dan dapat meningkatkan komparabilitas (daya banding) informasi keuangan yang berasal dari berbagai negara. Upaya untuk melakukan harmonisasi standar akuntansi telah dimulai jauh sebelum pembentukan Komite Standar Akuntansi Internasional pada tahun 1973. Harmonisasi akuntansi internasional merupakan salah satu isu terpenting yang dihadapi oleh pembuat standar akuntansi, badan pengatur pasar modal, bursa efek, dan mereka yang menyusun atau menggunakan laporan keuangan.
Harmonisasi akuntansi mencakup harmonisasi :
1.        Standar akuntansi (yang berkaitan dengan pengukuran dan pengungkapan)
2.        Pengungkapan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan public terkait dengan penawaran surat berharga dan pencatatan pada bursa efek
3.        Standar audit 
·           Keuntungan Harmonisasi Internasional
 Sebuah tulisan terbaru juga mendukung adanya suatu “GAAP global” yang terharmonisasi. Beberapa manfaat yang disebutkan antara lain:
1.      Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan. Standar pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi modal.
2.      Investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik; portofolio akan lebih beragam dan risiko keuangan berkurang.
3.      Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan strategi dalam bidang merger dan akuisisi.
4.      Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard pat disebarkan dalam mengembangkan standar global yang berkualitas tertinggi.

·         Kritik Atas Standar Internasional
        Internasionalisasi standar akuntansi juga menuai kritik. Pada awal tahun 1971 (sebelum pembentukan IASC), beberapa pihak mengatakan bahwa penentuan standar internasional merupakan solusi yang terlalu sederhana atas masalah yang rumit. Dinyatakan pula bahwa akuntansi, sebagai ilmu sosial, telah memiliki flesibilitas yang terbangun dengan sendiri di dalamnya dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang sangat berbeda merupakan salah satu nilai terpenting yang dimilikinya. Pada saat standar internasional diragukan dapat menjadi fleksibel untuk mengatasi perbedaan-perbedaan dalam latar belakang, tradisi, dan lingkungan ekonomi nasional, maka beberapa orang berpendapat bahwa hal ini akan menjadi sebuah tantangan yang secara politik tidak dapat diterima terhadap kedaulatan nasional.
Lebih jauh lagi, ditakutkan bahwa adopsi standar internasional akan menimbulkan “standar yang berlebihan”. Perusahaan harus merespon terhadap susunan tekanan nasional, politik, social, dan ekonomi yang semakin meningat dan semakin dibuat untuk memenuhi ketentuan internasional tambahan yang rumit dan berbiaya besar. Proses menjadikan standar akuntansi menjadi suatu standar internasional juga menimbulkan kritik. Kritik tersebut antara lain :
1.      Sebagian orang mengatakan bahwa standar internasional terlalu sederhana untuk memecahkan masalah yang rumit. Para kritikus bersikeras bahwa kemampuan untuk beradaptasi terhadap situasi – situasi yang sangat berbeda merupakan nilai terpenting dari akuntansi. Para kritikus ragu jika standar international dapat cukup fleksibel untuk mengatasi perbedaan-perbedaan latar belakang, tradisi dan lingkungan ekonomi disetiap negara.
2.      Anggapan bahwa ketika institusi keuangan international dan pasar international bersikeras menggunakan standar internasional, hanya firma-firma akuntansi internasional luaslah yang akan mampu memenuhi tuntutannya.
3.      Munculnya ketakutan bahwa penggunaan standar internasional akan menciptakan ‘standar overload’.
4.      Kritikus bersikeras bahwa standar internasional tidaklah cocok untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, terutama perusahaan yang tidak terdaftar akuntabilitas publik.
·         Rekonsiliasi dan Pengakuan Bersama
Dua pendekatan yang diajukan sebagai solusi yang mungkin digunakan untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan isi laporan keuangan lintas batas:
1.      Rekonsiliasi
    Melalui rekonsiliasi, perusahaan asing dapat menyusun laporan keuangan dengan menggunakan standar akuntansi negara asal, tetapi harus menyediakan rekonsiliasi antara ukuran-ukuran akuntansi yang penting (seperti laba bersih dan ekuitas pemegang saham) di negara asal dan di negara dimana laporan keuangan dilaporkan.
2.      Pengakuan bersama (yang juga disebut sebagai “imbal balik” / resiprositas)
Pengakuan bersama terjadi apabila pihak regulator di luar negara asal menerima laporan keuangan perusahaan asing yang didasarkan pada prinsip-prinsip negara asal.

·         Evaluasi
        Perdebatan mengenai harmonisasi mungkin tidak akan pernah terselesaikan dengan penuh. Beberapa argumen yang menentang harmonisasi mengandung sejumlah kebenaran. Namun demikian, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa tujuan harmonisasi internasional akuntansi, pengungkapan, dan audit telah diterima begitu luas sehingga tren yang mengarah pada harmonisasi internasional akan berlanjut atau bahkan semakin cepat. Sejumlah besar perusahaan secara sukarela mengadopsi Standar Prlaporan Keuangan Internasional (Internasional Financial Reporting Standards-IFRS). Banyak negara telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan, menggunakan IFRS sebagai standar nasional atau mengizinkan penerapan IFRS. Perbedaan nasional dalam faktor-faktor dasar yang menyebabkan perbedaan dalam akuntansi, pengungkapan, dan praktik audit semakin sempit karena pasar modal dan produk semakin internasional.

·         Penerapan Standar Internasional
Standar akuntansi internasional digunakan sebagai hasil dari :
1.      Perjanjian internasional atau politis
2.      Kepatuhan secara sukarela (atau yang didorong secara professional)
3.      Keputusan oleh badan pembuat standar akuntansi internasional
·         Penerapan Standar
Stamp dan Moonits telah mengemukakan bahwa strategi penerapan terbaik adalah dengan mengambil langkah preventif dalam profesi. Tindakan pencegahan diantaranya adalah penyertaan pendidikan, pelatihan, prosedur ujian yang komprehensif dan pendidikan profesional yang berkelanjutan.
·         Beberapa Peristiwa penting Dalam Sejarah Penentuan Standar Akuntansi Internasional
Ø  1959. Jacob Kraayenhof, mitra pendiri sebuah firma akuntan independen Eropa yang utama, mendorong agar usaha pembuatan standar akuntansi internasional dimulai.
Ø  1961. Group d’Etudes, yang terdiri dari akuntan professional yang berpraktik, didirikan di Eropa untuk memberikan nasihat kepada pihak berwenang Uni Eropa dalam masalah-masalah yang menyangkut akuntansi.
Ø  1966.Kelompok Studi Internasional Akuntan didirikan oleh institute professional di Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat.
Ø  1973.Komite Standar Akuntansi Internasional (Internasional Accounting Standard Committee-IASC) didirikan.
Ø  1976.Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Coorporation and Development-OECD) mengeluarkan Deklarasi Investasi dalam Perusahaan Multinasional yang berisi panduan untuk “Pengungkapan Informasi”.
Ø  1977.Federasi Internasional Akuntan (International Federation of Accounting-IFAC) didirikan.
Ø  1977.Kelompok Para Ahli yang ditunjuk oleh Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-bangsa mengeluarkan laporan yang terdiri dari empat bagian mengenai Standar Internasional Akuntansi dan Pelaporan bagi Perusahaan Transnasional.
Ø  1978.Komisi Masyarakat ropa mengeluarkan Direktif Keempat sebagai langkah pertama menuju harmonisasi akuntansi Eropa.
Ø  1981.IASC mendirikan kelompok konsultatif yang terdiri dari organisasi nonanggota untuk memperluas masukan-masukan dalam pembuatan standar internasional.
Ø  1984.Bursa Efek London menyatakan bahwa pihaknya berharap agar perusahaan-perusahaan yang mencatatkan sahamnya tetapi tidak didirikan di Inggris atau Irlandia menyesuaikan dengan standar akuntansi internasional.
Ø  1987.Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO) menyatakan dalam konferensi tahunannya untuk mendorong penggunaan standar yang umum dalam praktik akuntansi dan audit.
Ø  1989.IASC mengeluarkan Draf Eksposure 32 mengenai perbandingan laporan keuangan. Kerangka Dasar untuk Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan diterbitkan aoleh IASC.
Ø  1995.Dewan IASC dan Komisi Teknis IOSCO menyetujui suatu rencana kerja yang penyelesaiannya kemudian berhasil mengeluarkan IAS yang membentuk satu kelompok inti standar yang komprehensif. Keberhasilan dalam penyelesaian standar-standar ini menmungkinkan Komisi Teknis IOSCO untuk merekomendasikan pengesahan IAS dalam pengumpulan Modal lintas batas dan keperluan pencatatan saham di seluruh pasar global.
Ø  1995.Komisi Eropa mengadopsi sebuah pendekatan daru dalam harmonisasi akuntansi yang akan memungkinkan penggunaan IAS oleh perusahaan-perusahaan yang melakukan pencatatan saham dalam pasar modal internasional.
Ø  1996.Komisi Pasar Modal AS (SEC) mengumumkan bahwa pihaknya ”….mendukung tujuan IASC untuk mengembangkan, secepat mungkin, standar akuntansi yang dapat digunakan untuk menyusun laporan keuangan yang dapat digunakan dalam penawaran surat berharga lintas batas.
Ø  1998.IOSCO menerbitkan laporan “Standar Pengungkapan Internasional untuk Penawaran Lintas Batas dan Pencatatan Saham Perdana bagi Emiten Asing”.
Ø  1999.Forum Internasional untuk Pengembangan Akuntansi (International Forum on Accountancy Development-IFDA) bertemu untuk pertama kalinya pada bulan Juni.
Ø  2000.IOSCO menerima, secara keseluruhan, seluruh 40 standar inti yang disusun oleh IASC sebagai jawaban atas daftar keinginan IOSCO tahun 1993.
Ø  2001.Komisi Eropa mengusulkan sebuah aturan yang akan mewajibkan seluruh perusahaan EU yang tercatat sahamnya  pada suatu pasar yang diregulasi untuk menyusun akun-akun konsolidasi sesuai dengan IAS selambatnya tahun 2005.
Ø  2001.Badan Standar Akuntansi Internasional (Internastiaonal Accounting Standars Board-IASB) menggantikan IASC dan mengambil alih tanggung jawabnya per tanggal 1 April.  Standar IASB disebut sebagai Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) dan termasuk didalamnya IAS yang dikeluarkan oleh IASC.
Ø  2002.Parlemen Eropa menyetujui proposal Komisi Eropa bahwa secara nyata seluruh perusahaan EU yang tercatat sahamnya harus mengikuti standar IASB dimulai selambat-lambatnya tahun 2005 dalam laporan keuangan konsolidasi. Negara-negara anggota dapat memperluas ketentuan ini terhadap laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan pencatatan saham dan perusahaan secara individu. Dewan Eropa kemudian mengadopsi aturan yang memungkinkan hal ini tercapai.
Ø  2002.IASB dan FASB menandatangani “Perjanjian Norwalk” yang berisi komitmen bersama terhadap konvergensi standar akuntansi internasional dan AS.
Ø  2003.Dewan Eropa menyetujui Direktif EU Keempat dan Ketujuh yang diamandemen, yang menghapuskan ketidakkonsistenan antara direktif lama dengan IFRS.
Ø  2003.IASB menerbitkan IFRS 1 dan revisi terhadap 15 IAS.

·         Sekilas Mengenai Organisasi Internasional Utama yang Mendorong Harmonisasi Akuntansi
 Enam organisasi telah menjadi pemain utama dalam penentuan standar akuntansi internasional dan dalam mempromosikan harmonisasi akuntansi internasional :
1.      Badan Standar Akuntansi International (IASB)
2.      Komisi Uni Eropa (EU)
3.      Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO)
4.      Federasi Internasional Akuntan (IFAC)
5.      Kelompok Kerja Ahli Antarpemerintah Perserikatan Bangsa-bangsa atas Standar Internasional Akuntansi dan Pelaporan (International Standars of Accounting and Reporting – ISAR), bagian dari Konferensi Perserikatan Bangsa-bangsa dalam Perdagangan dan Pembangunan (United Nations Conference on Trade and Development – UNCTAD)
6.      Kelompok Kerja dalam Standar Akuntansi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Kelompok Kerja OEDC)

·         International Accounting Standards Board (IASB)
International Accounting Standards Board (IASB), yang tadinya bernama IASC, merupakan badan penetapan standar independen untuk sektor pribadi yang didirikan pada 1973 oleh organisasi akuntansi prodesional di sembilan negara dan direstrukturisasi pada tahun 2001. Sebelum direstrukturisasi, IASC mengeluarkan 41 Standar Akuntansi Internasional (IAS) dan Kerangka Kerja dalam Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan. IASB memiliki tujuan sebagai berikut :
a)      Mengembangkan untuk kepentingan public, seperangkat standar akuntansi yang berkualitas tinggi, mudah dimengerti dan tidak sulit dilaksanakan, yang menuntut informasi berkualitas tinggi, transparansi dan sebanding mengenai laporan keuangan dan kondisi keuangan lainnya.
b)      Memajukan penggunaan dan penerapan yang tepat dari standar-standar yang dibuat.
c)      Memperhatikan kebutuhan khusus perusahaan kecil menengah dan perkembangan ekonomi guna memenuhi tujuan nomor (1) dan (2).
d)     Meningkatkan kualitas konvergensi standar akuntansi di setiap negara serta Standar Akuntansi International dan Standar Pelaporan Keuangan International.

·         Standar Inti IASC dan Persetujuan IOSCO
      IASB (sebagaimana pendahulunya IASC) selama ini tengah berjuang mengembangkan standar akuntansi yang akan diterima oleh regulator sekuritas di seluruh dunia. Sebagai bagian dari usaha ini, IASC mengadopsi rencana kerja untuk menghasilkan suatu inti yang komprehensif dari standar-standar berkualitas. Pada juli 1995, Komite Teknis IOSCO menyatakan persetujuannya akan rencana kerja yang telah disusun. Standar inti pun akhirnya lengkap dengan adanya persetujuan dari IAS 39 pada Desember 1998. Tinjauan ulang IOSCO akan standar inti dimulai tahun 1999, dan pada tahun 2000 IOSCO mengesahkan penggunaan standar IASC pendataan dan penawaran lintas batas.

·         Struktur IASB Baru
IASB telah direstrukturisasi bertemu untuk pertama kalinya di tahun 2001. Kepengerusan IASB setelah diubah antara lain:
a)      Dewan Pengawas, IASB memiliki 22 pengawas: enam dari Maerika Utara, enam dari Amerika Utara, enam dari Eropa, enam dari wilayah Asia/Pasifik, dan empat dari wilayah lainnya.
b)      Badan Pengurus IASB, Badan ini membangun dan meningkatkan standar laporan dan akuntansi keudalam dalam berbisnis.
c)      Dewan Penasihat Standar, Dewan Penasihat Standar yang anggotanya ditunjuk oleh pengawas. Tanggung jawab yang dilakukan adalah memberikan nasihat pada badan pengurus mengenai agenda dan prioritasnya, memberikan informasi pada badan pengurus mengenai gambaran kepengurusan dan individu yang ada dalam dewan ini dalam kegiatan-kegiatan pembuatan standar utama, dan memberikan nasihat lainnya kepada badan pengurus dan pengawas.
d)      International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC), IFRIC menginterpretasi penggunaan Standar Akuntansi Internasional dan Standar Laporan Keuangan Internasional dan memberikan arahan interpretasi naskah dan meninjau komentar publik mengenai naskah tersebut, serta mendapatkan persetujuan dari badan pengurus untuk menyetujui interprestasinya.

IASB mengikuti proses yang diperlukan dalam penyusunan standar akuntansi. Setiap standar, IASB biasanya menerbitkan naskah diskusi yang berisi persyaratan-persyaratan yang mungkin diajukan dalam pembuatan standar, serta berisi argument-argumen yang mendukung dan menentang setiap standar.

·           Pengakuan dan Dukungan bagi IASB
 IFRS kini diterima secara luas di seluruh dunia. Standar tersebut digunakan oleh banyak negara sebagai dasar persyaratan akuntansi di Negara yang bersangkutan atau diadopsi secara keseluruhan, diterima oleh banyak bursa saham dan regulator yang memperbolehkan perusahaan asing dan dalam negeri untuk mengajukan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan IFRS, dan diakui oleh EC dan badan internasional lainnya.

·         Respon U.S. Securities and Exchange Commission terhadap IFRS
Selama tahun 1990-an, Securities and Exchange Commission (SEC) berada di bawah tekanan yang main kuat untuk membuat pasar saham AS lebih bisa diakses oleh para penerbit efek non-Amerika. Saat itu, SEC memberikan dukungan dalam laporan keuangan yang digunakan dalam pelaporan keuangan lintas batas. Namun, SEC menyatakan bahwa tiga syarat yang harus dipenuhi agar standar IASB dapat diterima :
a)      Standar tersebut harus berisi susunan inti yang terdiri atas prinsip-prinsip akuntansi yang menyeluruh dan dapat diterima secara luas.
b)      Standar tersebut harus berkualitas tinggi-standar tersebut harus dapat menunjukkan comparability dan transparansi, dan standar tersebut harus tersedia untuk pengunkapan penuh.
c)      Standar tersebut harus diterapkan dan diinterprestasikan secara teliti.
Kemudian pejabat-pejabat senior SEC menunjukkan bahwa jika IASB dan FASB membuat cukup kemajuan dalam menggabungkan standar mereka, dan jika kemajuan yang cukup telah dibuat dalam menciptakan prasarana untuk proses interpretasi dan penguatan standar akuntansi, SEC akan mempertimbangkan untuk mengijinkan anggota asing untuk berbisnis di Amerika Serikat dengan menggunakan IFRS tanpa harus melakukan rekonsiliasi dangan GAAP Amerika Serikat.

·         Uni Eropa (Europen Union-EU)
 Salah satu tujuan EU adalah untuk mencapai integrasi pasar keuangan eropa. Untuk tujuan ini, EC telah memperkenalkan direktif dan mengambil langkah inisiatif yang sangat besar untuk mencapai pasar tunggal bagi :
1.      Perubahan modal dalam tingkat EU
2.      Membuat kerangka dasar hukum umum untuk pasar surat berharga dan derivatif yang terintegrasi
3.      Mencapai satu set standar akuntansi tunggal untuk perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat.

·           Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO)
 Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (International Organization of Securities Commissions-IOSCO) beranggotakan sejumlah badan regulator pasar modal yang ada di lebih dari 100 negara. Menurut bagian pembukaan anggaran IOSCO: Otoritas pasar modal memutuskan untuk bekerja bersama-sama dalam memastikan pengaturan pasar yang lebih baik, baik pada tingkat domestic maupun internasional, untuk mempertahankan pasar yang adil, efisien dan sehat:
Ø  Saling menukarkan informasi berdasarkan pengalaman masing-masing untuk mendorong perkembangan pasar domestic.
Ø  Menyatukan upaya-upaya untuk membuat standard an penhawasan efektif terhadap transaksi surat berharga internasional.
Ø  Memberikan bantuan secara bersama-sama untuk memastikan integritas pasar melalui penerapan standar yang ketat dan penegakkan yang efektif terhadap pelanggaran.
 IOSCO telah bekerja secara ekstensif dalam pengungkapan internasional dan standar akuntansi memfasilitasi kemampuan perusahaan memperoleh modal secara efisien melalui pasar global surat berharga. Tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi proses yang dapat digunakan para penerbit saham kelas dunia untuk memperoleh modal dengan cara yang paling efektif dan efisien pada seluruh pasar modal yang terdapat permintaan investor. Komite ini bekerja sama dengan IASB, antara lain dengan memberikan masukan terhadap proyek-proyek IASB.
·       Federasi Internasional Akuntan ( IFAC )
IFAC merupakan organisasi tingkat dunia yang memiliki 159 organisasi anggota di 118 negara, yang mewakili lebih dari 2,5 juta orang akuntan. Didirikan tahun 1977, dimana misinya adalah untuk mendukung perkembangan profesi akuntansi dengan harmonisasi standar sehingga akuntan dapat memberikan jasa berkualitas tinggi secara konsisten demi kepentingan umum.
Majelis IFAC, yang bertemu setiap 2.5 tahun, memiliki seorang perwakilan dari setiap organisasi anggota IFAC. Majelis ini memiliki suatu dewan, yang terdiri dari para individu yang berasal dari 18 negara yang dipilih untuk masa 2.5 tahun. Dewan ini, yang bertemu 2 kali setiap tahunnya, menetapkan kebijakan IFAC dan mengawasi operasinya. Administrasi harian dilakukan oleh Sekretariat IFAC yang berlokasi di New York, yang memiliki staf professional akuntansi dari seluruh dunia. Poin-poin dibawah ini, mengenai audit (independen, eksternal) yaitu :
1.      Alasan utama dari audit eksternal ini beragam di seluruh dunia
2.      Tanggung jawab auditor beragam diseluruh kota
3.      Orang yang dapat melakukan audit, bermacam-macam di seluruh dunia
4.      Negara-negara sekarang ini telah mengambil langkah untuk mempererat control akan profesi audit
5.      Auditor menghadapi tanggung jawab yang makin tinggi untuk meningkatkan penguasaan badan hukum

Tugas professional IFAC dilakukan melalui badan penyusunan standard dan panitia kerja.
Ø  Badan penyusun standar IFAC adalah :
1.      International Accounting Education Standards Board
2.      International Auditing and Assurance Standards Board
3.      International Ethics Standards Board for Accountants
4.      International Public Sector Accounting Standards Board

Ø  Panitian Kerja IFAC adalah sebagai berikut :
1.      Panel Penasihat Pemenuhan
2.      Komite Negara Berkembang
3.      Komite Pencalonan
4.      Komite Akuntan Profesional dalam bisnis
5.      Komite Usaha Kecil Menengah
6.      Komite Auditor Transnegara

Badan Standar Asuransi dan Auditing Internasional IFAC mengeluarkan Standar Internasional tentang Auditing (ISA), yang disusun ke dalam kelompok-kelompok di bawah ini :
1.      Pengenalan Kerja
2.      Prinsip dan Tanggung Jawab Umum
3.      Perkiraan Risiko dan Respon terhadap Resiko yang telah diperkirakan
4.      Bukti Audit
5.      Penggunaan Kerja Lainnya
6.      Area Khusus

IFAC memiliki hubunganyang dekat organisasi internasional lainnya, seperti IASB dan IOSCO. Laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan yang makin banyak itu diaudit sesuai dengan Standar International IFAC tentang Auditing
·       Kelompok Kerja Antar Pemerintah PBB Untuk Pakar Dalam Standar Internasional
Akuntansi dan Pelaporan (ISAR)
ISAR dibentuk pada tahun 1982 dan merupakan satu-satunya kelompok kerja antar pemerintah yang membahas akuntansi dan audit pada tingkat perusahaan. Mandat khususnya adalah untuk mendorong harmonisasi standar akuntansi nasional bagi perusahaan. ISAR mewujudkan mandat tersebut melalui pembahasan dan pengesahan praktik terbaik, termasuk yang direkomendasikan oleh IASB. ISAR merupakan pendukung awal atas pelaporan lingkungan hidup dan sejumlah inisiatif terbaru berpusat pada tata kelola perusahaan dan akuntansi untuk perusahaan berukuran kecil dan menengah.
·       Organisasi Untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)
OECD merupakan organisasi internasional Negara-negara industry maju yang berorientasi ekonomi pasar. Dengan keanggotaan yang terdiri dari Negara-negara industry maju yang lebih besar, OECD sering menjadi lawan yang tangguh terhadap badan-badan lain (seperti PBB atau Konfederasi Internasional Persatuan Perdagangan Bebas) yang memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan anggota-anggotanya.
·         Contoh Kasus

Kasus Phar Mor Inc


Phar Mor Inc, termasuk perusahaan terbesar di Amerika Serikat yang dinyatakan bangkrut pada bulan Agustus 1992 berdasarkan undang-undang U.S.Bangkruptcy Code. Phar mor merupakan perusahaan retail yang menjual produk yang cukup bervariasi, mulai dari obat-obatan, furniture, elektronik, pakaian olah raga hingga videotape. Pada masa puncak kejayaannya, Phar Mor mempunyai 300 outlet besar di hampir seluruh negara bagian dan memperkerjakan 23,000 orang karyawan yang berpusat di Youngstown, Ohio, United States. Phar-Mor dididrikan oleh Michael I. Monus atau biasa disebut Mickey Monus dan David S. Shapira di tahun 1982. Beberapa toko menggunakan nama Pharmhouse and Rx Place. Slogan Phar-Mor adalah ”Phar-Mor power buying gives you Phar-Mor buying power”.
Phar Mor Inc, merupakan pengecer barang-barang kering yang berkantor pusat diYoungstown, Ohio, didirikan pada tahun 1982 oleh David Shapira dan Michael I Monus. Monus sebagai Presiden dari Phar-Mor dan sangat terlibat dalam kegiatan operasional. Shapira, CEO dari  jaringan supermarket Giant Eagle, selaku pemegang saham terbesar Phar-Mor dan menjadi CEO. Perusahaan tumbuh dengan cepat dari satu toko ditahun 1982 menjadi lebih dari 300 toko dengan  penjualan senilai $3 M dalam 10 tahun. 
Ciri khas dari toko Phar-Mor selalu memberikan barang-barang diskon dengan pembelian dalam jumlah yang banyak. Barang dagangannya berupa video tape sampai dengan resep obat-obatan. Tahun 1980an, Youngstown masih terguncang dengan restrukturisasi industri bajanya. Hampir 50,000 pekerjaan hilang dan banyak bisnis yang meninggalkan pusat kota. 
Dibawah kepemimpinan Monus, Phar-Mor menjadi Youngstown dengan pendukung dan karyawan terbesar. Monus memulai dengan mengambil alih dua bangungan kosong di pusat kota, mengoperasikan toko Phar-Mor yang pertama dan mengkonversikan dalam bentuk lain dengan cara mengosongkan departement store, menjadi kantor pusat Phar-Mor. Kantor pusat menjadi titik fokus acara-acara yang ada dikota tersebut. 
Monus juga mendukung kegiatan kembang api dipusat kota dan Camp Tuff Enuff, sebuah program beresiko bagi anak-anak kecil dikota tersebut. Monus mewakili Universitas Youngstown, dimana masing-masing keluarga diberikan kursi bisnis. Monus membujuk Ladies Professional Golf Association untuk mengadakan kejuaraan di Youngstown bagi orang-orang yang antusias dan penggemar olahraga. Kemudian dia mencoba menarik Denver Rockies setelah gagal membujuk Major League Baseball sebagai franchise untuk piala Youngstown. Tahun 1987, Monus memulai liga bola basket dunia, yang terdiri dari 10 tim dari masing-masing kota.
Phar-Mor mulai mengalami kerugian pada tahun 1987. Kerugian tersebut tersembunyi dari pantauan Monus dan beberapa bawahan melakukan  peningkatan persediaan, aktiva lainnya, kewajiban dan biaya lainnya untuk menutupi margin  profit yang terus menyusut. Dua set buku disimpan, buku besar perusahaan yang berisi laporan  palsu dan buku besar tersembunyi yang terus membukukan laporan yang salah. Tindakan tersebut untuk menutupi kerugian dan memungkinkan mereka untuk meminta sejumlah bonus dari kinerja serta mempertahankan akses ke pasar modal dan permohonan kredit.
Laporan keuangan yang keliru digunakan untuk tujuan kredit senilai $1 M sebagai tambahan modal dari investor, termasuk Sears, Roebuck & Co, Westinghouse Electric Corp; beberapa  pengembang mall Mr Edward DeBartolo; dan mitra perusahaan sebagai afiliasi dari Lazare Freres. Sebagai perusahaan dengan kondisi keuangan yang memburuk, mereka bergantung kepada pembayaran dari supplier untuk menyembunyikan kerugian perusahaan. 
Supplier seperti Coca Cola Enterprises Inc, Fuji Photo Co dan Gibson Greetings Inc membayar senilai $138 juta antara tahun 1988 dan tahun 1992 sebagai pertukaran dengan Phar-Mor untuk tidak mereka dalam persaingan merek. Phar-Mor membeli sejumlah barangnya dengan para supplier yang dikenal atau memiliki hubungan dengan para eksekutif atau direktur Pahr-Mor. Contohnya, perusahaan menyewa sejumlah peralatan telepon dari perusahaan yang sebagian dimiliki oleh Monus. Menjual pakaian olahraga dari adanya Liga Bola Basket Dunia. Perhiasan imitasi dibeli dari Jewelry 90, Youngstown membeli sejumlah perhiasan tersebut dari grosir New York. Jewelry 90 dimiliki oleh David Karzmer, rekan bisnis dari Monus. Ayah Michael Monus, adalah direktur dari Phar-Mor, bekerja sebagai konsultan dari Jewelry 90. Dia dibayar senilai $354,754 untuk bekerja selama enam bulan di tahun 1992. Jika Phar-Mor membeli langsung dari grosir di New York akan menghemat senilai $2,1 M. 
Selama musim panas tahun 1992, agen perjalanan Youngstown mengatakan kepada Edward DeBartolo sebagai pemegang saham independen bahwa unit Phar Mor telah melakukan  pembayaran senilai $ 80.000 untuk menyelesaikan rekening tunggakan Liga Basket Dunia. DeBartolo meneruskan informasi tersebut ke Shapira, untuk dilakukan investigasi internal terhadap Phar-Mor.  Penyelidikan mengungkapkan bahwa DeBartolo hanya melihat puncak dari suatu permasalahan. Selama beberapa tahun, Monus telah menyalurkan sejumlah dana sekitar $10  juta ke Liga Basket Dunia. Sebagai mitra umum di liga tersebut, 60% dia sebagai pengendali dari masing-masing tim, dengan demikian Monus bertanggung jawab terhadap pembiayaan liga tersebut. Pemilik tim mengatakan bahwa setiap kali mereka membutuhkan uang, mereka akan menghubungi direktur keuangan Phar Mor-atau kontak ke divisi usaha kecil dan uang akan segera dikirimkan. Monus juga menggunakan sebanyak apapun uang untuk keperluan pribadi, termasuk $ 180.000 untuk sebuah rumah dengan lahan seluas 18.000 kaki persegi baru ia membangun, lengkap dengan lapangan basket. Sejumlah petugas lainnya dan direksi telah mendapat manfaat dengan mengorbankan Phar-Mor.
Sejarah mencatat kasus phar mor inc sebagai kasus yang melegenda di kalangan auditor keuangan. Eksekutif Phar Mor sengaja melakukan fraud untuk mendapat keuntungan financial yang masuk ke dalam saku pribadi individu di jajaran top manajemen perusahaan.

Analisis :

Dalam kasus Phar Mor Inc perusahaan melakukan fraud, top manajemen Phar Mor membuat dua laporan keuangan yakni, laporan inventory dan laporan bulanan keuangan (monthly financial report). Dan kedua laporan ini kemudian dibuat ganda oleh pihak manajemen. Satu set laporan inventory berisi laporan inventory yang benar (true report), sedangkan satu set laporan lainnya berisi informasi tentang inventory yang di-adjusment dan ditujukan untuk auditor eksternal.
Demikian juga dengan laporan bulanan keuangan, laporan keuangan yang benar berisi tentang kerugian yang diderita oleh perusahaan ditujukan hanya untuk jajaran eksekutif. Laporan lainnya adalah laporan yang telah dimanipulasi sehingga seolah-olah perusahaan mendapat keuntungan yang berlimpah.
Dalam mempersiapkan laporan-laporan tersebut, manajemen Phar Mor sengaja merekrut staf dari akuntan publik (KAP) Cooper & Lybrand, staf–staf tersebut kemudian turut dimainkan dalam fraud tersebut dan sebagai imbalan telah membuat laporan ganda mereka diberikan kedudukan jabatan penting.
Dalam kasus Phar Mor, fungsi control environment telah dikesampingkan. Control environment sangat ditentukan oleh attitude dari manajemen. Idealnya, manajemen harus mendukung penuh aktivitas internal audit dan mendeklarasikan dukungan itu ke semua jajaran operasional perusahaan. Top manajemen Phar Mor tidak menunjukan attitude yang baik. Manajemen kemudian justru merekrut staf auditor dari KAP Cooper & Librand untuk turut dimainkan dalam fraud.


Referensi :
Choi, Frederick. D. S. dan Gary K. Meek.2010.International Accounting Edisi 6 Buku 1. Jakarta:Salemba Empat.

Tulisan ini untuk memenuhi tugas softskill Mata Kuliah Akuntansi Internasional
Dosen : Jessica Barus, SE.,MMSI.
Nama   : D. Auliasari
              N. Setyorini

UNIVERSITAS GUNADARMA